Membincangkan eksistensi muslim tionghoa, salah satunya dapat dilihat dari peran aktif mereka dalam interaksi keberagamaannya. Selain terkonsentrasi terhadap dakwah di kalangan Tionghoa secara intern, muslim Tionghoa juga terus menjaga keharmonisan interaksi keagamaan dengan warga pribumi tanpa memandang unsur suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).
Hal ini dapat dibuktikan begitu eratnya interaksi keagamaan dalam setiap moment kebersamaan yang memiliki kesamaan ibadah simbolik. Seperti terlihat pada komplek kelenteng Sam Poo Kong yang terletak di daerah Semarang. Di dalam kelenteng ini, terdapat sebuah bangunan makam Juru Mudi Dampo Awang yang memiliki sebuah pintu model pengimaman masjid. Pada sisi kanan makam ruangan itu, kadang-kadang digunakan oleh pengunjung yang beragama Islam untuk menunaikan shalat, tafakkur(semedi) dan slametan oleh penganut aliran kejawen yang ada di kota Semarang dan sekitarnya. Ritual-ritual mistik tersebut (terutama semedi) biasanya dilakukan pada malam 15 bulan Hijriah, malam Selasa Kliwon, dan malam Jum’at Kliwon.